Karena ku, menafikan zahir
Alih-alih menyoal lambai sapa
Diterima Sang Dia, sudah mencukup
Mencukup sangat
Meski ku layak diabai bumi,
Hingga tersisa perih
Cukup,
Sadar agungku adalah terbaik
Aku melanglang menyelami arti itu
Belati zahir telah amat memilu
Hari ini, juga sebelum maulid aku terseok lagi dan sadar kembali
Tersabit musuh kodrat alam memang amat jahanam
Terlampau jahanam dan bilapun senang, terbalas jahanam lebih lekang dan panjang
Cukup,
Aku harus berani, dengan jalan ini
Memang, aku tak mungkin kuat karena lemahku
Namun aku hanya bisa berani
Sadar agungku satu-satunya nikmat terbaik
Amat baik miliki satu nikmat sadar agung
Kalaupun bertingkat dengan nikmat si zahir, maka: itu titipan manja
Kau manunggalkan dengannya, atau kai dikendalikan
Itu pilihan
Syukurlah
Syukurlah yang manunggal dengan semangatmu
Sadar agung adalah nikmat terbaik
Nikmat yang hikmat
Jangan tercibir oleh semesta lagi
Karena si zahir mudah berubah jahanam
Juga jangan lagi: menerima perih