Dalam kepribadian sesorang, internal power (soulpower - spiritpower) memiliki kias yang sama, dan soulpower yang paling mudah dan berbobot adalah dzikir isimghoib Tarekat Syattariyah. Yang diluar adalah cerminan yang ada dalam jiwa. Bangunlah jiwa dulu, baru bangunlah raganya. Kita tidak diperbolehkan tong kosong nyaring bunyinya. Menasihati orang lain tidak dianjurkan kalau belum bisa menasihati dirimya sendiri. Memimpin orang lain tidak diperkenankan kalau belum bisa memimpin dirinya sendiri. Ngendikane Gus Muwafiq, dulu malah ada tarekat di jawa yang biarlah kelihatan tidak baik di mata menungso, tapi punya kedalaman bobot besar bersama Tuhan. Bahkan dikuburannya minta diberi batang celeng dilapis atas mayitnya agar kelihatan dia orang di azab, padahal dia berniat menjaga keikhlasan dalam dirinya. Dimana dirinya dipandang manusia sangat buruk dengan minum-minuman keras agar disebut orang tidak baik, namun dirinya menjaga hatinya sangat dekat sama Allah. Oleh karena itu di NU, akhlak (internal power) lebih didahulukan daripada ilmu. Dulu jaman nabi, gus muwafiq juga ngendika ada orang yang tidak pernah ibadah, dan hanya senang tidur di Masjid, namun dia hanya bermodal cinta sama kanjeng nabi, dan nabi ngendika beliau nanti masuk surga dengan modal tersebut. Subhanallah. Saking gumunnya kanjeng Abu Bakar bertanya, kalau dirinya juga beribadah dan cinta kanjeng nabi, berarti juga (lebih) masuk surga, dan nabi juga menjawab: iya. Saking senengnya Kanjeng Abu Bakar menari-nari yang dilanjutkan oleh tarian sufi hingga saat ini. Internal Power ini sangat penting, dan secara Ydh. Kolam ini adalah fokus pada internal power, eksternal power adalah bukan hak kita. Karena kias maliki yaumidin yang menurut Drs. Toto adalah future outlook yang kita pertanggungjawabkan secara mandiri. MashaAllah semoga kita bisa. Amin...
Dalam Prameks, ae095914112019
Dalam Prameks, ae095514112019