Aku masih bertahan mengoyak ragaku sendiri.
Menghantamnya hingga terserpih.
Mengabriknya hingga terberai.
Melanglah yang berharap ada tujuan.
Berteriak kikuk, menanti yang tak pantas dinanti. Tapi saya mengagumi, seurat nadinya teraliri jiwa pemantasan diri dari arti menanti. Meski lebam pikir merasionalkan. Namun sebuah arti yang layak untuk dilayakan, yang sama sekali tak bisa dilawakan.
